Minggu, 07 Juni 2015

Review Novel Jatuh Cinta diam-diam



Judul                : Jatuh Cinta diam-diam
Penulis             : Dwitasari
Penerbit           : plotpoint
Hal. Buku        : 234 Halaman
Ilustrator ISI    : Annisa Aprianinda
           
 Setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai, memilih untuk diam, memperhatikan dari jauh, atau mendoakan diam-diam. Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dia cint. Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.

            Setelah sukses dengan Raksasa Dari Jogja, Dwitasari mengumpulkan 14 kisah ini. Kisah tentang kebahagiaan mencintai dan kepedihan memendam cinta. Kisah tentang orang-orang yang menyimpan sebuah nama di hati mereka. Kisah yang membuat kita bertanya: apa halangan untuk menyatakan cinta.

 14 kisah yang akan diceritakan didalam novel ini yaitu :
-          Rasa, Melihatmu, Di Ujung Hari,  Dalam Tawa,   Komedi Kampus, Susu Kaleng, Memilih Pertemuan
-          ,Melepas Matahari, Perpisahan Sunyi, Pergi, Harapan dan Bayangan , Diakhiri Dengan Pelukan

Rasa
Saat itu empat tahun yang lalu saat dalam keadaan hujan rintik-rintik , Seorang Pria kelahiran Wonogiri bertemu dengan seorang wanita yang ingin mencari makanan buka puasa dalam jumlah yang banyak. Pria itu hanya bisa membalas dengan anggukan lemah sambil membenarkan topinya yang lusuh dan membasuh keringatnya dengan lap yang dikalunginya dileher. Dia yang waktu itu baru datang ke Jakarta, hanya menyimpan satu keinginan, membuat mie ayam paling enak dengan rasa yang pas, tidak terlalu asin. Sejak hari itu, kami mempunyai hubungan yang cukup dekat. Dia kerap mampir ke gereobak mie ayamku dan memesan banyak sekali mie ayam. Akhirnya aku tahu dia memesan mie ayam untuk diberikan pada anak jalanan. 

Hari berganti Minggu, daganganku lari manis dan sering habis. Aku terpacu untuk membuat racikan terbaik untuk mie ayamku, untuk mie ayam yang dia berikan untuk anak jalanan. Ketika sedang meracik, tiba-tiba wajah wanita itu tergambar jelas di otak ku. Ketika kutatap matanya yang bening, rasa lelahku berangsur sembuh. Namun, tajamnya tatapan mata itu juga selalu membuat jantungku tertusuk dengan amarah yang sebenarnya tak kupahami.

Ketika aku asik meracik bumbu mie ayam dan memotong daging ayam sambil mendengar lagu kesukaanku”Ono Opo Awakmu” kudengar ketukan pintu. Kulirik jam dinding dan terlihat pukul setengah dua belas malam. Aku bertanya- tanya siapa yang bertamu malam-malam ditengah hujan seperti ini? Aku ketakuan untuk membuka pintu karena beredar gosip ada nya kuntilanak yang selalu mengganggu pria-pria bujangan. Kuberanikan diri untuk membuka pintu. Perempuan itu masuk tanpa mengucapkan sepatah kata sapaan, dia malah memukul bahuku. Aku menawarkan minuman Jahe hangat dan saling berbincang. Setelah kubuatkan minuman  hangat dan meletakan nya di meja dan menawarkan minum air hangat terlebih dahulu. Wanita itu meminta tolong untuk duduk disamping nya dan mendengarkan cerita nya, cerita mengenai hubungan dengan pacarnya yang baru saja putus. Wanita itu menangis sejadi-jadinya saat dia menceritakan hubungan wanita itu dengan pacarnya. Wanita itu terlalu sayang dengan pacarnya. Aku hanya bisa terdiam dan tidak bisa memberi komentar. Saat wanita itu meminta jawaban atas semua cerita nya dan bilang “ Kamu Sakit? “ Aku tertawa dalam hati. Seandainya dia tahu, sakitnya bukanlah sakit yang paling sakit. Ketika berada didekatnya, aku tak bisa menyatakan perasaan ku. Aku hanya pria yang senang menunggu, selalu menunggu, dan mengharapkan dia datang. Terlalu tinggikah harapan seperti itu?

Apa yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang paling kau sayang? Tentunya saja ada. Ada yang lebih sakit daripada itu. Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang selalu bertumbuh itu tak pernah menyentuh dan menjamah. Ingin kukeluarkan rasa yang sejak tadi tertahan di tenggorokan, namun ponsel nya berdering dan melepas pelukan nya. Ternyata yang menelpon Pria itu lagi, dan pasti dengan janji-janji baru serta dengan kebohongan manis yang baru dan dengan tipu daya yang baru. Dia menutup telpon nya dan menatap mataku dengan sisa-sisa basah di bola matanya. Aku tersenyum. Sekarang kubawa dia kedalam pelukan. Dibahuku dia tersenyum haru dan dibahunya hatiku menangis pilu. Mungkin, lain kali, pada pelukan entah yang keberapa, aku akan mengatakan aku mencintainya.






-          
-                    
-          

-          
-          
-        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar